Kiamat 2012? Bukannya sudah! (bag. 2) PDF Cetak E-mail
Thursday, 04 February 2010
Semua jalan pasti ada nilai tambahnya, namun ada pula konsekuensinya. Tiada yang cacat dalam ciptaan-ciptaanNya.  Sesungguhnya Semua itu Satu adanya, tiada Keberadaan selain Dia …… Ini adalah konsep Oneness atau Tauhid, di tanah Jawa disebut Manunggaling Kawula Gusti atau Wahdatul Wujud menurut Ibnu Arabi, yang banyak sekali dipahami secara keliru.

Konsep yang umum dimengerti orang adalah konsep dualitas (duality) kebalikan dari Unity atau Tauhid. “Yang ini benar yang diseberang sana salah atau keliru”.  Pihak-pihak tertentu dianggap menjalani rencana-rencana Tuhan, sedangkan pihak lainnya tidak.  Oleh karena itu ada pihak-pihak yang dianggap disayangiNya dan berhak masuk Sorga dan sebaliknya masuk Neraka.  Anggapannya Tuhan tidak akan pernah memaafkan mereka yang tidak sejalan dengan rencana atau kemauanNya. Dengan kata lain, sadar tidak sadar, anggapannya adalah Tuhan tidak mempunyai sisi kasih sayang, pemaafan atau Rahmaniyat.  Yang ada hanya sisi Rahimiyat, sisi keadilan / keseimbangan ”mata dibalas mata”.  Harus tunduk kepada yang berkuasa, kuat, superior atau menerima konsekuensinya. Begitu pula dengan pihak-pihak yang hanya bisa melihat Tuhan dengan sisi pemaafanNya atau RahmaniyatNya saja, tidak ada sisi keseimbangan / keadilan sama sekali.

[Yang beragama menganggap yang berkuasa adalah  Tuhan, sedangkan yang tidak ”menuhankan” wujud-wujud yang dianggapnya berkuasa di dunia nyata ini. Sedangkan yang menganggap dirinya berkuasa, sesungguhnya seperti seorang ”firaun” yang menuhankan dirinya sendiri.  Pemuka agama / kepercayaan biasanya menganggap dirinya wakil tuhan satu-satunya di dunia ini, secara langsung tidak langsung mengatakan ”Tuhan mengangkat seorang anak” yakni dirinya sendiri.  Apalagi pengikutnya secara langsung tidak langsung mengatakan hal yang sama.  Keterangan tambahan: Anak Tuhan = Pihak yang diistimewakan Tuhan.  Pandangan DUALITAS: Ada pihak yang di "anak emaskan" dan ada pihak yang di "anak tirikan".  Alam-alam dualitas: sebagian kecil pihak yang berada "di atas", biasa disebut para elite, penguasa atau "dewa" dan sebagian besar rakyat kebanyakan berada di bawah].

Kecintaan untuk semua hanya bisa terjadi kalau kita bisa melihat ”tiada yang cacat dalam ciptaan-ciptaanNya”.  Tidak ada mahluk yang tidak mengabdi kepadaNya di seluruh alam, baik yang nyata maupun yang ghaib (Multiverse).  Kita semua berasal dari yang Satu dan akan kembali kepada yang Satu.  Kita semua berasal dari Alam-Ketakberhinggaan, kampung halaman sejati kita semua, dan berada sementara di alam-alam keterbatasan  ini agar bisa lebih memahami, mengapresiasi Alam-Ketakberhinggaan.  Sang Maha Pencipta ”menciptakan” Alam-Ketakberhinggaan, sesungguhnya Dia jauh lebih besar dari tak-berhingga, diluar jangkauan konsep imajinasi manusia (beyond our wildest imagination). 

Dalam upaya kembali ke kampung halaman sejati ada pihak-pihak yang merasa nyaman dengan kondisi dualitas sebagai dasar kemajuan untuk kembali ke asal.  Penderitaan dan kebahagian yang silih berganti memacu dirinya kepada kemajuan, bahkan ada yang memilih porsi penderitaan yang jauh lebih dominan sebagai dasar kemajuan.  Tentunya ada pula yang sebaliknya yakni porsi kebahagiannya yang lebih dominan sebagai dasar kemajuan.

Ada pula pihak-pihak yang memilih  kedamaian  sebagai dasar kemajuan untuk kembali ke asal.  Tentunya kedamaian tidak sama dengan kebahagian, walau ada kemiripannya. Jalan damai biasa pula disebut sebagai jalan tengah, Tauhid atau Unity.  Orang-orang di jalan ini memandang semua jalan ada nilai tambahnya, walau ada pula konsekuensinya masing-masing.  Memandang semua orang / mahluk sebagai Satu adanya, mencintai semua sebagai Satu adanya.

Jadi dalam pandangan Oneness / Tauhid, Dia senantiasa berlaku kasih sayang terhadap mahluk-mahlukNya.  Memberikan sarana / alam yang sesuai  dengan keinginan para mahlukNya (tiada paksaan).  Tidak mengabaikan sisi keseimbangan, namun sisi kasih sayang jauh lebih dominan, seiring dengan ungkapan "RahmatKu meliputi segala sesuatu".  

”Menyatunya sang hamba dengan Tuhannya” definisinya bisa disederhanakan dengan kemampuan sang hamba memantulkan kedua sifat utamaNya, Rahman-Rahim.  Sesuai dengan himbauan ”Balaslah dengan setimpal, tapi kalau engkau maafkan itu lebih baik”.  Jadi kalau seseorang BERKECENDERUNGAN berlaku adil / seimbangan dan sekaligus biasa memaafkan sesama, maka dia telah mempunyai prasyarat kembali ke asal melalui jalan tengah.  Bukan berarti dia telah sempurna bisa memantulkan kedua sifat-sifatNya tersebut.  Tapi dia MEMPUNYAI KEMAMPUAN MENGEMBANGKAN KEDUA SIFAT-SIFATNYA SEKALIGUS.  Di jalan lain mahluk-mahluk tersebut hanya nyaman / mampu mengembangkan SALAH SATU sifatNya terlebih dahulu.

Kembali ke cerita seputar 2012, kalau kita mengharapkan kehancuran para elite yang sekarang berkuasa, lalu bukankah hal ini membuat kita mempunyai visi yang sama dengan mereka: ”Kehancuran bagi mereka yang tidak sejalan dengan kami”. 

Jadi kalau kita menghendaki berada di jalan tengah, seyogyanya kita senantiasa mengharapkan kedamaian di muka bumi ini.  Menguatkan visi para orang tua, kakek / nenek kita enam dekade yang lalu.  Bukan saja biasa berlaku adil / seimbang tapi yang lebih utama sekaligus berlaku, pemaaf, toleran, kasih sayang terhadap semua.  Insya Allah dalam waktu dekat, jalan tengah, jalan damai / Tauhid ini makin terbuka bagi kita semua. Amin.

 
 

Menu Utama
Hal Depan
Visi-Misi
Pengantar
Tulisan
Links
Kontak Kami
Cari
English Section
Cari di Web

Terkini
Populer