|
Bakal kiamat tahun 2012? Apa betul dengan berakhirnya kalender suku Maya maka berakhir pula dunia kita ini? Tapi malah ada yang menganggap kiamat telah terjadi. Seperti pada judul filem seri TV dokumenter terkenal: "World War 2: The Apocalypse". Bahkan suatu sumber channeling mengatakan "Judgement Day" pun sedang berlangsung. Saya pun lebih condong dengan pendapat ini. Namun demikian bukan berarti tidak ada yang istimewa dengan tahun 2012. Sekarang pun sedang berlangsung banyak hal yang istimewa. Tentunya bergantung kepada bagaimana cara / kemampuan kita memandangnya. Kata orang bijak: "What we see is actually a projection of what inside of us". Apa yang kita "lihat diluar" adalah refleksi dari kesadaran / keadaan bathiniah dalam diri kita. Sangat erat hubungannya dengan hadis terkenal: "Aku menurut sangkaan hamba-hambaKu, maka berprasangka baiklah terhadapKu".
Runtuhnya paradigma / kepercayaan / norma lama, lalu timbulnya suatu yang baru, secara esensi bisa dikatakan sebagai kiamat. Kematian seseorangpun, biasa dikatakan telah terjadi kiamat terhadap dirinya. Namun untuk mengatakan telah terjadi kiamat terhadap dunia ini, harus ada sesuatu yang siknifikan terjadi. Bukan saja secara lahiriah tentunya, tapi yang lebih penting harus secara ruhaniah. Tapi diingatkan kembali, istimewa atau tidak suatu kejadian atau pemandangan berpulang kepada cara (prasangka) / kemampuan kita melihat. Cerita Nabi Yusuf as misalnya, ada yang menganggap daya tarik fisik dan cerita asmaranyalah yang paling istimewa. Ada pula yang melihat sisi pemaafan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudara yang hendak membunuh beliaulah yang berkesan paling mendalam. Bukan saja beliau memaafkan tapi malah membantu saudara-saudaranya yang sedang dalam kesusahan. Demikian pula dengan cerita Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Ada yang terkagum-kagum terhadap kemampuan mereka mengalahkan musuh-musuh mereka di medan perang, pantang menyerah melawan kezaliman ketika hal ini ditimpakan kepada mereka. Tapi bagi sebagian orang, yang paling istimewa adalah kemampuan mereka, terutama Rasullah sendiri, bisa memaafkan pihak-pihak yang berusaha melenyapkan nyawa mereka dikala kemenangan ada ditangan (penahlukan kota Mekah). Ini adalah pengejewantahan dari ajaran: "Balaslah dengan seimbang / adil, namun memaafkan adalah suatu yang lebih baik". Padahal norma pada saat itu adalah bagi kaum yang kalah perang, para lelaki dibunuh serta para wanita dan anak-anak dijadikan budak. No mercy, tiada maaf bagi mereka yang hendak melakukan pembunuhan. Pada Perang Dunia Kedua, Jerman, Itali dan Jepang telah melakukan kezaliman yang nyata terhadap penduduk dunia. Telah terbukti dalam sejarah, penduduk dunia (setidaknya sebagian besar), termasuk penduduk Indonesia, bahu-membahu melawan balik dan menang terhadap pihak-pihak yang melakukan kezaliman ini. Tapi yang paling istimewa adalah bagaimana penduduk dunia bisa memaafkan sebagian besar pihak-pihak yang kalah perang. Tidak hanya sampai disitu, pihak-pihak yang kalah perang bahkan dibantu membangun kembali negeri mereka yang porak poranda akibat dahsyatnya perang. Ini adalah bukti sejarah. Jadi ajaran: "Balaslah dengan seimbang / adil, namun memaafkan adalah suatu yang lebih baik" telah diterima dan dijalankan secara global. Jadi Dunia secara kolektif sudah sepakat mengarah ke jalan ini. Namun secara individu berpulang kepada pilihan masing-masing. Kalau kisah Nabi Yusuf disebut sebagai kemenangan suatu keluarga, lalu penahlukan Mekah disebut sebagai kemenangan suatu suku bangsa, maka apakah kita bisa melihat kemenangan di Perang Dunia Kedua sebagai Kemenangan Penduduk Dunia? Hal ini tentunya berpulang kembali kepada cara pandang masing-masing individu. Kriteria apa yang dianggapnya sebagai kemenangan (dan kiamat). Apakah berjuta-juta orang mati akibat Perang Dunia Kedua belum cukup disebut sebagai bencana besar (kiamat / apocalypse). Dikatakan proses terjadinya langit baru dunia baru ibarat proses kelahiran anak manusia yang mau tidak mau harus ada darah yang mengalir. Apakah darah berjuta-juta orang tersebut belum cukup? Apakah harus ada lebih banyak lagi darah tertumpah baru bisa disebut kiamat, lalu kita mengharapkan perang dunia yang lebih dahsyat lagi? Sebagian orang memang berpandangan demikian, dan ini adalah haknya masing-masing individu. Tapi perlu diingat sebagian besar penduduk dunia mempunyai sisi pemaafan yang lebih kuat dan telah dibuktikan dalam sejarah seperti yang tersebut di atas. Ajaran "Balaslah dengan seimbang / adil, namun memaafkan adalah suatu yang lebih baik" adalah pengejewantahan dari usaha untuk memantulkan kedua sifat utamaNya: Rahman-Rahim. Usaha membiasakan diri berlaku adil / seimbang (sisi maskulin, mata dibalas mata, keadilan dalam ruang lingkup terbatas), walaupun demikian sifat pemaafan, kasih sayang, kecintaan terhadap semua lebih dominan (sisi feminin). Sejalan dengan "RahmatKu meliputi segala sesuatu" atau "My mercy took precedence over My anger". Namun ada pihak yang tidak bisa memaafkan pihak lain yang tidak sejalan dengan mereka. Esensinya mereka berputus asa atas RahmatNya. Secara langsung tidak langsung mereka berprasangka Tuhan tidak mungkin memaafkan orang-orang yang dianggapnya telah bersalah ini, harus dihukum dan kalau perlu dilenyapkan dari muka bumi ini. Kalaupun mereka tidak percaya dengan adanya Tuhan, mereka berperilaku sebagai tuhan yang berhak memastikan mana yang benar dan yang salah. Esensinya mereka merasa telah berbuat yang seadil-adilnya, namun sesungguhnya hanya keadilan yang sesuai dengan persepsi mereka masing-masing. Belum mencapai keadilan / keseimbangan / kebijaksanaan yang menembus ruang-waktu (pantulan sempurna dari sisi Ar-RahimNya). Pada dasarnya mereka baru berusaha ke arah jalan ini, suatu pilihan yang harus dihormati, "Tiada paksaan dalam agama". Konsep tiada maaf - no mercy bagi yang tidak sejalan, mereka usung terus-menerus, walau sudah terbukti tidak diterima oleh sebagian besar umat manusia ditahun 1945. Contohnya ideologi tiada maaf bagi para komunis, dikobarkanlah perang di Korea, lalu di Vietnam dan Indonesia pun tidak mau ketinggalan dalam hal ini walau bentuknya agak berbeda. Lalu setelah ideologi ganyang komunis tidak relevan lagi, mereka alihkan melawan paham terorisme Islam fundamentalis (atau apapun istilahnya). Dikobarkanlah perang di Timur-Tengah, Afganistan lalu di Irak, dan dicoba diperluas ke Iran. Sepertinya mereka masih penasaran (tidak mau menyerah), kalau manusia saling melempar bom nuklir, konsep memaafkan pasti musnah pula pikir mereka (secara sadar tidak sadar) dan konsep tiada maaflah yang berjaya di muka bumi ini. Usaha-usaha ke arah ini telah mereka lakukan berkali-kali namun gagal, karena manusia telah menetapkan arah dunia seperti yang tersebut di atas. Tapi sampai kapan pihak-pihak yang tidak setuju konsep pemaafan / kecintaan bisa terus dibiarkan memprovokasi, menjalankan agenda-agenda mereka mempengaruhi sebagian besar umat manusia ini. Kita serahkan semua ini ke yang Mahakuasa, kejadian di seputar tahun 2012 Insya Allah adalah jawabannya. Semua jalan pasti ada nilai tambahnya, namun ada pula konsekuensinya. Tiada yang cacat dalam ciptaan-ciptaanNya. Sesungguhnya Semua itu Satu adanya, tiada Keberadaan selain Dia. Bersambung .... |