Neti, neti; Not an Angel nor a Demon PDF Cetak E-mail
Monday, 08 June 2009

Neti, neti;  Bukan ini, bukan itu, demikian ungkapan seorang Yogi atas konsep pencapaian seorang Brahma sejati.   Kalau dalam Islam bisa disebut sebagai pencapaian seorang Insan Kamil.   Kalau disederhanakan Manusia itu mempunyai sifat-sifat yang tidak seperti Malaikat apalagi seperti Syaitan. 

Namun kedua unsur mahluk-mahluk  di atas ada pada Manusia.  Kalau terlalu kearah kanan biasa disebut condong ke feminin (Malaikat bersifat kasih sayang, keibuan) dan kearah kiri condong ke maskulin (Jin bersifat kebapakan yang adil, Syaitan yang ekstrem di kiri yang semena-mena melihat dirinya sebagai tuan ("tuhan" yang berkuasa) dan pihak laiin sebagai budaknya).  Namun penggabungan yang sempurna menjadikan Manusia mahluk yang khas, bukan Malaikat dan bukan Syaitan/Iblis/Jin.

Dalam Al-Quran diceritakan secara berulang-ulang perihal penciptaan Manusia.  Manusia merupakan jenis mahluk baru yang muncul setelah penciptaan Malaikat, Syaitan dan Jin.  Kalau Manusia mempunyai sifat-sifat yang serupa dengan mahluk-mahlukNya yang lain maka yang dipertanyakan: Untuk apa diciptakan mahluk baru?  Jadi tentunya Manusia, walau mempunyai kesamaan dalam beberapa hal dengan mahluk-mahluk lainnya, dia harus mempunyai sesuatu yang khas.

Iblis (Jin yang terlalu condong ke kiri) dengan angkuhnya mengatakan dirinya lebih superior dari Manusia.  Sedangkan Malaikat meragukan penciptaan sosok Manusia yang dianggap hanya membuat kerusakan dan menumpahkan darah, lalu menganggap dirinya lebih banyak berbakti / mengabdi kepadaNYa.  Singkatnya kedua mahluk ini MERASA LEBIH dari Manusia.

Jadi kalau Manusia pun merasa lebih dari mahluk-mahluk lainnya (terutama terhadap sesama Manusia sendiri) MAKA APA BEDANYA pandangan Manusia dengan pandangan Iblis/Syaitan dan  Malaikat.

Bukan seperti pandangan Iblis/Syaitan dan bukan seperti pandangan Malaikat,  Manusia MEMPUNYAI KEMAMPUAN memandang secara khas, tidak melihat pihak lain sebagai yang lebih rendah atau lebih tinggi (dualitas), tapi merasakan dan melihat Semua sebagai Satu adanya, meyakini tiada yang cacat dalam ciptaan-ciptaanNya, meyakini tiada Keberadaan selain Dia (Tauhid, Oneness).

Pandangan Manusia inilah yang merupakan rahmat bagi seluruh alam, karena memberikan inspirasi pada mahluk-mahluk lainnya dalam mempercepat laju kembali kepadaNya, kembali ke kedamaian abadi, kampung halaman kita semua.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 

Menu Utama
Hal Depan
Visi-Misi
Pengantar
Tulisan
Links
Kontak Kami
Cari
English Section
Cari di Web

Terkini
Populer