|
Pengembangan Body, Mind and Spirit yang menyeluruh atau biasa disebut holistik adalah cara-cara pengembangan alternatif. Kalau sudah mengenal cara-cara pengembangan, sisi penyembuhan dengan sendirinya sudah tercakup. Jadi sudah termasuk kemampuan self healing. Bahkan sisi pengembangan bisa disamakan sebagai sisi “offence” dalam istilah olahraga, dan dikatakan “offence is the best defense”atau penyerangan adalah pertahanan terbaik. Dalam pandangan hoilistik yang saya maksud, manusia dipandangan mempunyai tubuh-tubuh: 4. Spiritual 3. Intelektual (mind) 2. Emosional (mind) 1. Fisikal (body) Dan masing-masing tubuh membutuhkan “nutrisi” yang cukup (bukan berlebihan) serta saling mempengaruhi satu sama lain. Ketidak seimbangan di satu tubuh bisa menimbulkan gangguan di tubuh lainnya. Tubuh-tubuh yang diatas (misalnya no.4) lebih dominan bisa mempengaruhi tubuh-tubuh di bawahnya. Pengembangan (dan pengobatannya) harus dilihat secara menyeluruh tidak terpisah-pisah. Mengapa Holistik dan Alternatif
Disebut alternatif, bisa dipandang dari beberapa sisi. Dalam artian sempit misalnya herbal sebagai alternatif obat farmasi. Tapi yang paling fundamental berbeda adalah meninggalkan ketergantungan kepada otoritas para pakar (yang dianggap sebagai“dewa-dewa”yang ada diluar diri) dalam pengembangan Body, Mind and Spirit dan mengembalikan kepada otoritas “Tuhan yang ada dalam diri masing-masing”. Mengantungkan kepada Semua (termasuk para pakar) yang dilihat sebagai Satu adanya. Tidak memandang Alam Raya ini sebagai suatu yang terpisah-pisah, tapi melihat semua sebagai suatu kesatuan yang holistik. Kembali kepada prinsip Oneness atau Tauhid, tapi tentunya bukan malah menuhankan diri sendiri. Pandangan sekarang yang sudah mengakar adalah mengantungkan kehidupan kita kepada para ahlinya. Kesehatan tubuh kepada para dokter dan ahli farmasi, kesehatan emosional kepada psikolog, kemajuan kecerdasan intelektual kepada para guru, dosen dan profesor, serta kemajuan spiritual kepada para ulama, pastor dan pendeta. Rakyat kebanyakan dikondisikan sebagai orang-orang tidak berdaya dan harus menggantungkan kehidupan mereka kepada para elite ini (“para dewa”). Kemudian para elite yang mempunyai kelebihan-kelebihan ini dipandang berhak atas keistimewan-keistimewaan / privileges yang hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat. Kasus Ponari (terlepas dari berkhasiat tidaknya) belakangan ini adalah contoh dari ekses prinsip ketergantungan terhadap para pakar / ahli / “dewa”. Ironisnya para pejabat dan cendikiawan yang “Anti Ponari” sesungguhnya berada dalam kubu yang sama dengan para pencari kesembuhan yang “Pro Ponari”, hanya saja mungkin berbeda dalam cara menilai mana yang disebut sebagai pakar. Mereka yang disebut sebagai elite atau pakar di atas tentunya tidak luput pula dari keterbatasan-keterbatasan. Keahlian mereka biasanya sempit cakupannya apalagi bagi mereka yang super spesialis. Lebih di sisi intelektual (dan inipun dalam cakupan yang sempit pula) tapi sangat kurang di sisi emosional misalnya. Uang yang didapat dari kelebihan di sisi intelektualnya yang sempit inilah yang kemudian dipakai untuk “membeli kesehatan” fisik, emosi (hiburan), intelek (yang tidak dipunyainya) dan bahkan spirit sekalipun dari pihak lain. Singkatnya menjadi PAKAR di satu sisi PESAKITAN di sisi lain, khas penghuni alam-alam dualitas, berkembang harus ada suka dan duka. Di alam Unity / Oneness / Tauhid, kedamaianlah (atau keheningan, saya enggan memakai istilah kekosongan) yang membawa kemajuan, tidak perlu ada menang-kalah. Tidak perlu superioritas (kepakaran) yang tinggi disuatu sisi, cocok bagi umumnya penduduk Bumi yang rata-rata saja. Alam inilah yang akan / sedang di bangun oleh anak-anak indigo di Bumi ini. Indigo adalah lambang titik energi keenam, Energi Penyatuan / Oneness of All. Menyudutkan mereka sebagai pakar atau “dewa penolong”sesunguhnya kontra produktif. Mudah-mudahan kita semua dapat memahami hal ini. Bersambung.... |