Zaman Baru, Ruh Isa dan Anak-Anak Indigo PDF Cetak E-mail
Friday, 16 March 2007

From: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

To: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

Cc: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

Sent: Saturday, March 17, 2007 1:04 PM

Subject: [psikologi_transformatif] Zaman Baru, Ruh Isa dan Anak-Anak Indigo

 

Salaam / Peace kepada rekan-rekan yang sedang dalam perjalan,

 

Pendahuluan

 

Dalam tulisan ini ada tiga isu sekaligus yang akan dibahas, beserta hubungan-hubungannya.  Pertama-tama mengenai Akhir Zaman atau kalau kita gunakan konotasi positif sebut saja sebagai munculnya Zaman Baru (New Age).  Kalau Akhir Zaman selalu dikaitkan dengan Kiamat dengan asosiasi yang mengerikan, menyambut Zaman Baru kedengarannya lebih membangkitkan optimisme.  Tapi hakekat sesungguhnya sama saja, ketika ada suatu yang berakhir maka muncullah yang baru, sangat alamiah. 

 

Baik dikalangan umat Islam maupun umat Kristen masih banyak perbedaan pendapat mengenai kedatangan Isa yang dijanjikan diakhir zaman (apakah sekarang telah akhir zamanpun masih belum sepakat semuanya).  Apakah turun dalam bentuk tubuh kasar (masih memakai tubuh kasar yang dulu) atau hanya ruhnya / "semangatnya" saja yang masuk kedalam diri seseorang, masih banyak perdebatan.  Dalam agama-agama lainnya pun ada disebutkan sosok penyelamat yang akan turun di akhir zaman ini.

 

Apa yang saya tuliskan berikut adalah sudut pandangan New Age-Sufism, lihat http://en.wikipedia.org/wiki/New_Age (ada yang mengkatagorikan ajaran Sufi sebagai bagian dari gerakan New Age).  Kalau kita search di internet dengan kata-kata kunci "Christ Consciousness" (kesadaran / ruh Isa) maka akan banyak sekali referensi yang didapat.  Tentunya tidak ada jaminan sama dengan apa yang saya utarakan, karena dalam New Age pun banyak faksi-faksinya, walaupun demikian umumnya mereka sepakat bahwa "Ruh/Kesadaran Isa" bisa turun kepada siapa saja yang memenuhi syarat.  Jadi yang turun bukan sosok yang dulu tapi hanya "ruhnya" saja dan sosoknya lebih dari seseorang bahkan bisa suatu kaum.

 

Membicarakan tokoh Christ (Isa), tidak bisa lepas dari membicarakan tokoh Anti-Christ (dalam tradisi Islam disebut Dajjal).  Tokoh inipun bentuknya bukan hanya perorangan tapi suatu kaum, bahkan bisa beberapa kaum yang berseberangan tapi dihubungkan dengan benang merah keyakinan seperti: "Kekerasan / chaos membawa kepada kemajuan / kedamaian".  Dalam banyak teori Conspiracy disebutkan bahwa kelompok ini di asosiasikan dengan grup rahasia seperti Iluminati atau New World Order dan sejenisnya yang anggotanya tokoh-tokoh kaya dan berpengaruh di dunia ini (lihat: The Revealing dalam  http://www.divinecosmos.com/ dan blog David Wilcock yang terbaru lainnya). Namun mengenai pihak Gog-Magog (atau Jajuj-Majuj dalam Al-Quran) minim penjelasannya (penokohannya).  Tentunya pembahasan teori Conspiracy ini bukan porsi saya, untuk ini lihat saja link yang saya sebutkan di atas. Yang akan saya bahas adalah esensi-esensi dari tokoh-tokoh di atas (archetypes), sehingga kita bisa hubungkan dengan sosok-sosok yang kita temui sehari-hari disekeliling kita, dan yang terpenting bisa dijadikan cermin melihat sosok diri kita sendiri.  Mudah-mudahan ada manfaatnya, Insya Allah.

 

Terakhir akan dibahas mengenai anak-anak Indigo yang banyak lahir belakangan ini (termasuk anak Crystal) dan bagaimana hubungannya dalam menyambut Zaman Baru dan dengan tokoh-tokoh yang disebutkan di atas.

 

Dan ditutup seperti halnya dalam tulisan-tulisan saya yang lalu, dengan pemandangan universal sesungguhnya "Tiada yang cacat dalam ciptaan-ciptaanNya".  Jalan apapun yang kita pilih (tokoh manapun yang kita idolakan) hanyalah pengalaman keterbatasan.  Alam Ketakberhinggaan adalah kampung halaman kita semua, tempat kita berasal dan berpulang.

 

Zaman Baru

 

Berakhirnya suatu zaman mirip dengan pada saat ditutupnya suatu layar pertunjukan.  Kesan-pesan yang didapat tergantung dari skenario dan laga tokoh-tokoh dalam pertunjukan tersebut, terutama ENDING / akhir dari cerita tersebut.  Bagaimana akhir cerita dari drama penduduk Bumi ini, yang kita sendiri sebagai pelaku sekaligus penonton.  Akan memberikan kepada kita bayangan sosok "Wajah Sang Sutradara" atau "Wajah Tuhan" itu sendiri yang mengejewantah dalam perilaku tokoh-tokoh utamanya dibabak akhir Bumi kali ini.

 

[Skenario 1 - sisi Maskulin sangat dominan, sisi feminin sangat tipis].  Tipikal cerita seorang pahlawan (hero) akan terlihat kurang lebih sebagai berikut: Pada awalnya si tokoh utama terlihat feminin (lemah) lalu diprovokasi oleh para brandalan (tokoh-tokoh yang biasanya sangat maskulin), menjadi super maskulin pula.  Para brandalan dibabat habis oleh sang pahlawan tanpa ampun dan khalayak ramaipun bersorak.  Pesannya maskulinitas (jalal) hebat - selalu berjaya, feminitas (jamal) payah.  Jadi Tuhan (yang berkuasa) pun pasti ultra maskulin  (Jangan salah perempuanpun banyak yang maskulin, lihat saja para eksekutif, PM dan Presiden wanita di dunia). Khalayak / penonton menginginkan menjadi sosok seperti itu ("Tuhan yang ultra maskulin" sebagai idola).

 

[Skenario 2 - gabungan sisi Maskulin dan Feminin, dengan sisi Maskulin lebih dominan].  Mirip dengan Skenario 1, namun sisi feminin sang pahlawan tetap ada (dan berkembang).  Dia tidak akan main hajar habis semua lawan-lawannya, tapi menghukum (dan mengganjar) secara proporsional.  Kalau perlu ada pihak pihak yang dimaafkan, sepanjang bisa berguna bagi pihaknya.  Sisi kelembutannya (feminin) tetap ada, namun sisi maskulinitasnya lebih dominan.  Pesannya hanya dengan sisi maskulinitas yang dominan keadaan akan tetap terkendali, namun sisi feminitas tetap diperlukan supaya hidup tidak hanya dipenuhi ketakutan-ketakutan.  Pihak lawan dianggap sebagai satu kesatuan yang berguna bagi dirinya, karena dengan adanya lawan (sparing partner) inilah dirinya bisa lebih maju (kuat).  Jadi Tuhan (menurut sangkaan hamba-hamba-Nya) mempunyai sisi maskulin dan feminin namun sisi maskulinnya tetap lebih dominan.

 

[Skenario 3 - gabungan sisi Maskulin dan Feminin, dengan sisi Feminin lebih dominan].  Mirip dengan Skenario 2, namun sisi femininnya lebih dominan.  Lebih jauh ketika "berkuasa" lawan-lawannya justru dimaafkan, karena dalam pemandangannya semua dilihat sebagai satu adanya.  Tidak ada yang namanya lawan, yang ada hanya kawan.  Yang tadinya dianggap musuh-musuh rupanya hanya ciptaannya sendiri, agar membuat dirinya cepat maju.  "Aku ini menurut sangkaan hamba-hambaKu,  maka berprasangka baiklah terhadapKu".  Begitu ilusi musuh ini runtuh maka terlihat jelaslah "Tiada yang cacat dalam ciptaan-ciptaanNya" dan "Kebarat-ketimur hanya wajah kecantikanNya yang terlihat".  "RahmatKu meliputi segala sesuatu" tapi bukan berarti sisi maskulinnya hilang.  Tuhan yang Rahman (feminin) dan Rahim (maskulin), God with Love and Wisdom. 

 

[Skenario 4 - sisi Feminin sangat dominan, sisi maskulin sangat tipis]. Kebalikan dari Skenario 1.  Pesannya maskulinitas (jalal) payah penuh kekotoran / kekerasan, feminitas (jamal) hebat - yang paling murni dan sejati.  Pandangan ini tentunya bukan hanya monopoli kaum perempuan.

 

Bumi ini cenderung (ditakdirkan, lebih tepatnya didesain untuk) mengikuti cerita Skenario 3.  Bukti-bukti sejarah yang mendukungnya (kalau bisa disebut demikian) kurang lebihnya sebagai berikut:

 

Kisah Nabi Yusuf as.  Karena kecemburuan yang besar sampai-sampai beliau as mau dilenyapkan di masa kanak-kanak oleh saudara-saudaranya sendiri.  Tapi tatkala Nabi Yusuf as telah berkuasa dan saudara-saudaranya sangat membutuhkan pertolongan, mereka dimaafkan dan dibantu [skala keluarga].

 

Kisah perjuangan Nabi Muhammad saw sampai kembali mendudki Mekah.  Bukan hanya terusir bahkan diburu untuk dibunuh oleh penduduk Mekah yang masih sesuku, namun selamat dan hijrah ke Madinah. Setelah itupun ancaman pembunuhan masih berlangsung bahkan juga terhadap para sahabat beliau saw dan sampai berkembang ketaraf perang suku.  Namun tatkala Nabi Muhammad saw beserta 1500 sabahat menahlukan Mekah, pihak-pihak lawan dimaafkan.  Peperangan dan pertempuran selanjutnya justru mengaburkan Skenario 3.  Nabi saw mengatakan sisi Jamal (feminin) dari Tuhan baru akan nampak jelas nanti diakhir zaman [skala suku / negara].

 

Perang Dunia Kedua.  Pihak-pihak yang kalah perang seperti Jerman, Itali dan Jepang secara umum dimaafkan dan malah dibantu dari keruntuhan oleh pihak pemenang (Jerman dan Jepang malah tumbuh menjadi raksasa ekonomi).  Kalau sisi tanpa maaf (sisi sangat maskulin) yang berkembang biasanya pihak laki-laki yang kalah dibunuh, perempuan dan anak-anak mereka di jadikan budak [skala gobal].

 

Namun pihak-pihak yang menginginkan terwujudnya Skenario 1 di Bumi, belum berputus asa.  Baik pihak kelompok Bush yang mengejar "para teroris" without mercy / tanpa rasa kasihan (biasanya pihak ini bukan saja punya musuh tapi juga piawai menciptakan musuh, karena menurut mereka hanya melalui chaos bisa terjadi order / damai.  Adanya musuh membuat hidup lebih bergairah/seru, banyak musuh banyak maju).  Begitu pula kelompok-kelompok fanatik agama yang banyak menebar chaos berdarah (seperti meledakan bom ditempat umum) dalam mencapai tujuan-tujuan mereka.

 

Setelah drama babak akhir Bumi terjadi, tentunya para penonton akan "mengidolakan sang pahlawan" dan "berkeinginan menjadi seperti DIA" dan akan terwujud penuh di Zaman Baru nanti ("Manusia diciptakan menurut image Nya"). 

 

Tapi tidak semua orang akan memenuhi syarat masuk ke Bumi baru langit baru nanti. Analoginya kurang lebih seperti ini:  Katakanlah anak-anak sekolah dari berbagai SMP dan SMU nonton sebuah filem tentang suka-duka seorang dokter didaerah terpencil.  Saking menariknya katakanlah semua penonton ingin menjadi dokter seperti tokoh dalam filem tersebut.  Namun hanya penonton yang duduk di kelas akhir pasti alam dengan nilai-nilai yang mencukupi bisa memenuhi syarat masuk kedokteran (tentunya tidak langsung jadi dokter).  Tapi bukan berarti yang tidak bisa jadi dokter lalu menjadi pecundang semua, bukan.

 

Di bagian lain galaksi ini skenario-skenario lainnya bisa mewujud (dengan segala konsekuensinya tentunya).  Bagi mereka yang tidak merasa pas dengan Skenario 3, masih ada tempat-tempat lain yang bisa mewujudkan setiap jenis idealisme.  Alam Raya ini luas sekali, kalau perlu pindah galaksi, tapi tidak di Bumi ini.

 

Sekali lagi ingatlah selalu "Tiada yang cacat dalam ciptaan-ciptaanNya".  Jalan apapun yang kita pilih (tokoh manapun yang kita idolakan) hanyalah pengalaman keterbatasan.  Alam Ketakberhinggaan adalah kampung halaman kita semua, tempat kita berasal dan berpulang.

 

BERSAMBUNG... ( lihat: Anak-anak Indigo dan Kristal )

 

Salam,

 

Jusuf Achmad.

 

Website: www.geocities.com/jachmad
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 

Menu Utama
Hal Depan
Visi-Misi
Pengantar
Tulisan
Links
Kontak Kami
Cari
English Section
Cari di Web

Terkini
Populer